Obat penawar KB suntik

Suntik KB ada dua jenis yaitu suntik KB 1 bulan dan suntik KB 3 bulan. Setelah disuntikkan maka obat KB akan bertahan di otot bokong dan kemudian dilepaskan secara perlahan-lahan ke aliran darah. Untuk KB 1 bulan maka proses pelepasan nya memakan waktu sekitar 1 bulan juga. Demikian pula dengan suntik KB 3 bulan memakan waktu 3 bulan untuk menghabiskan deposit obat KB di dalam otot.

Jika sudah disuntikkan apakah ada obat penawar KB suntik tersebut, seandainya keberadaannya tidak diinginkan lagi misalnya karena memicu reaksi samping?

Sampai saat ini belum ada obat yang berfungsi untuk menetralkan hormon yang disuntikkan sebagai obat KB. Jika ada ketidakcocokan terhadap KB suntik maka tidak ada jalan lain selain menunggu masa berakhirnya KB suntik tersebut. Untuk KB suntik 1 bulan berarti menurut satu bulan lamanya atau lebih. Demikian pula untuk KB suntik 3 bulan. Kadang-kadang butuh waktu lebih lama lagi untuk menghabiskan sama sekali deposit obat di dalam otot.

Jadi kesimpulannya belum ada penawar KB suntik.

KB suntik 1 bulan mengandung hormon kombinasi antara progesteron dan estrogen. Sedangkan KB suntik 3 bulan hanya mengandung progesteron. Oleh karena itu KB suntik 3 bulan cocok untuk ibu menyusui. Sedangkan KB suntik 1 bulan tidak cocok untuk ibu menyusui karena dapat menghambat produksi air susu ibu.

Jika terjadi efek samping pada pemakaian KB suntik baik KB suntik 1 bulan maupun 3 bulan penggunaan KB suntik harus segera dihentikan. Selain itu dapat dilakukan pengobatan terhadap efek samping yang muncul. Tapi dari segi obat KB nya sendiri obat KB yang sudah terlanjur masuk ke otot bokong tidak bisa lagi di tawar kecuali menunggu obat tersebut habis diserap oleh tubuh.

Tapi sebelum penyuntikan biasanya kesehatan ibu diperiksa dulu terutama gejala penyakit hipertensi atau penyakit berat lainnya. Jika ada hipertensi maka KB suntik tidak bisa digunakan demikian pula jika ada penyakit diabetes. Obat KB suntik dapat menyebabkan naiknya tekanan darah yang gejalanya berupa sakit kepala pusing dan tidak nyaman di ulu hati. Sedangkan penderita diabetes tidak boleh diberi KB suntik karena dapat menyebabkan munculnya abses di tempat suntikan.

Cara Agar ASI Keluar Banyak Setelah Melahirkan

Banyak ibu yang mengeluhkan produksi asinya sangat sedikit setelah melahirkan. Tentunya kondisi ini akan membuat kasihan bayinya karena akan kekurangan makanan. Bayi yang kekurangan ASI biasanya lebih rewel dan bisa jadi terjadi dehidrasi.

Adalah hal yang normal jika pada saat setelah melahirkan ibu mempunyai produksi ASI yang sedikit atau ASInya belum keluar.

Proses pembentukan ASI di dalam tubuh dipengaruhi oleh hormon hormon tubuh yang memberi sinyal agar kelenjar susu di payudara ibu memproduksi air susu. Pada tahap awal setelah melahirkan kerja dari hormon hormon tersebut belum optimal.

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan ibu agar ASI keluar banyak setelah melahirkan.

Pertama rangsang puting susu misalnya dengan tetap menyusukan bayi walaupun tidak ada airnya. Jadi tetap menyusukan seperti biasa seolah-olah ASI sudah berproduksi. Memang tampaknya hal ini seperti hal yang bodoh, tetapi ditinjau dari sudut pandang medis hal ini adalah hal yang cerdas. Saat bayi mengulum puting susu dan menghisapnya maka tubuh akan segera memproduksi hormon oksitosin lebih banyak. Hormon inilah yang kemudian akan merangsang sel-sel di kelenjar payudara untuk memproduksi susu lebih banyak lagi. Jika bayi tidak mau menghisap karena tidak ada airnya ibu dapat melakukan rangsangan pada puting payudara dengan tangan sendiri. Boleh juga dengan tangan atau mulut suaminya (becanda ya ibu-ibu jangan marah).

Kedua ibu harus cukup mengkonsumsi cairan tidak terbatas pada air putih tapi boleh juga jenis cairan lainnya yang disukai oleh ibu.

Ketiga makan sayur-sayuran hijau seperti daun katuk untuk merangsang produksi ASI lebih banyak.

Keempat sering-seringlah menyusui bayi bisa dalam jarak 2 jam atau kurang atau tergantung kebutuhan bayi. Kebiasaan menyusui bayi lebih sering akan menjaga sinyal hormon untuk tetap memelihara produksi ASI.

Kelima menyusui secara bergantian antara payudara kanan dan kiri.

Keenam bagi ibu yang bekerja atau tidak dapat menyusui bayinya dalam waktu yang lama maka sebaiknya memeras air susu nya baik dengan tangan maupun dengan alat secara teratur. Air susu yang dibiarkan di dalam payudara tanpa diperas akan menjadi sinyal bagi tubuh untuk menyetop produksi ASI. Di samping dapat membuat nyeri pada payudara ibu.

Manfaat Vaksin BCG

Ibu yang baru saja mempunyai bayi, pasti oleh petugas kesehatan dianjurkan membawa bayinya ke puskesmas atau posyandu untuk vaksin BCG.

Mungkin ada ibu yang bertanya, vaksin apa ini? Apa manfaatnya.

Vaksin BCG bermanfaat untuk mencegah bayi terjangkit penyakit tuberkulosis. Bahasa sehari-harinya, penyakit TBC.

Penyakit tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini lebih sakti dibandingkan bakteri kebanyakan. Ia mampu semedi berpuluh-puluh tahun tanpa mati. Ia juga dapat menghindar dari kejaran sistem pertahanan tubuh manusia. Ianya juga dapat mengelabui berbagai macam obat antibiotik. Oleh karena itu, cara terbaik membasmi penyakit ini adalah dengan imunisasi atau vaksinasi BCG.

Penyakit tuberkulosis terutama menyerang paru-paru. Walaupun demikian juga dapat mengenai kulit, usus, otak, tulang, ginjal dan sebagainya.

Di Indonesia vaksin BCG termasuk kedalam kategori vaksin wajib. Vaksin ini diberikan secara gratis di Puskesmas atau rumah sakit. Bayi yang mendapat vaksin adalah yang berumur di bawah 3 bulan. Paling ideal bayi yang berumur 1 bulan.

Vaksin diberikan dengan cara disuntikkan pada kulit lengan. Cukup Satu Kali Saja seumur hidup.

Biasanya beberapa hari setelah penyuntikan, tempat suntikan akan bengkak dan bernanah. Tapi tidak perlu khawatir. Bengkak dan nanah tersebut perlahan-lahan akan hilang. Pada sebagian orang akan membentuk adanya bekas.

Walaupun ada ketidaknyamanan dan ada bekas, itu tidak sebading dengan manfaat perlindungan terhadap penyakit TBC yang didapat dari vaksin.

So, yuk vaksin BCG.

Bolehkah Memberi Susu ASI Dibantu Susu Formula

Banyak ibu yang merasa ASI-nya kurang sehingga mempunyai niat untuk mengkombinasikan antara asi dengan susu formula.

Bolehkah memberi susu ASI dibantu susu formula pada kondisi tersebut di atas?

Pada awal kelahiran adalah normal jika produksi ASI ibu tidak langsung banyak. Sebaiknya tetap diusahakan anak menghisap puting susu ibu sehingga produksi ASI semakin banyak akibat dari rangsangan hormonal ibu. Jangan buru-buru memberikan susu formula karena ini akan membiasakan bayi untuk ketergantungan dengan susu formula apalagi dengan menggunakan dot.

Kalangan medis menyarankan untuk hanya memberikan ASI bahkan tanpa air putih sekalipun terhadap bayi yang berusia 0 sampai 6 bulan. Who menyebutnya sebagai ASI eksklusif. Ibu jangan khawatir karena sudah banyak sekali ibu-ibu lain yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dan sampai saat ini bayinya baik-baik saja bahkan banyak yang sudah beranjak dewasa.

Setelah 6 bulan maka pemberian ASI eksklusif tidak lagi cukup tapi harus dibantu oleh makanan pendamping ASI termasuk susu formula.

Tapi perlu diingat bahwa pemberian susu formula tidak dicampur dengan ASI dalam satu botol karena hal ini akan menyebabkan rusaknya komposisi air susu ibu. Pemberian susu ASI dibantu susu formula caranya dengan memberikan secara bergantian dengan selang waktu tertentu.

Walaupun ASI eksklusif sangat dianjurkan tapi ada beberapa kondisi ibu yang menghambatnya untuk menyusui secara penuh kepada bayinya. Misalnya ibu sedang sakit atau sedang berjauhan. Maka dalam kondisi ini boleh saja diberi susu formula. tapi harus diperhatikan susu formulanya adalah susu formula khusus untuk anak 0-6 bulan. Jangan menggunakan susu formula untuk anak yang lebih tua atau susu kental manis. Karena kandungan susu susu tersebut tidak sesuai dengan kondisi pencernaan dan tubuh bayi.

Tapi sangat disarankan agar ibu berkonsultasi dengan dokter ahli gizi atau praktisi gizi lainnya mengenai penggunaan susu formula untuk anak ibu yang usia 0-6 bulan. Hal ini untuk mencegah anak ibu kekurangan gizi atau sebaliknya kelebihan gizi akibat susu formula yang berlebihan. Kondisi gizi bayi dapat dilihat dari timbangannya setiap bulan oleh karena itu ibu sebaiknya rajin ke posyandu. Kadang-kadang bayi terlihat aktif ternyata dia menderita gizi kurang.

Berapa Hari Boleh Berhubungan Setelah KB IUD

Banyak ibu yang memilih memasang KB IUD karena KB IUD mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan cara ber-kb lainnya, seperti pil KB atau suntik KB.

Bagi ibu yang baru pertama memasang KB IUD mungkin muncul pertanyaan, berapa hari boleh berhubungan setelah KB IUD terpasang?

Efek proteksi atau perlindungan KB IUD sudah terjadi 24 jam pasca pemasangan. Jadi jika pemasangannya dilakukan pada malam hari pukul 20.00 maka ibu sudah bisa melakukan hubungan seksual keesokan harinya setelah jam 20.00. Hubungan seksual ini bisa dilakukan tanpa perlindungan tambahan seperti kondom.

Tentu saja efek proteksi ini sangat cepat bila dibandingkan dengan KB hormonal seperti pil KB atau KB suntik. KB hormonal baru muncul perlindungan minimal 7 hari pasca pemberian atau penyuntikan. Diantara masa menunggu tersebut ibu punya pilihan berpantang sementara melakukan hubungan, atau berhubungan dengan perlindungan tambahan non hormonal seperti penggunaan kondom.

Bagaimana jika ibu mengalami perdarahan bercak atau nyeri pasca pemasangan? Apakah efek perlindungan tersebut juga tetap 24 jam?

Ya betul efek perlindungan tetap diperoleh setelah 24 jam tetapi karena ada perdarahan bercak atau nyeri maka hubungan seksual dianjurkan untuk dilakukan setelah gejala tersebut hilang. Hal ini semata-mata untuk menjaga kenyamanan ibu, bukan karena hilangnya efek perlindungan karena munculnya gejala tersebut.

Bagaimana kalau sebaliknya. Malah suami yang mengeluh nyeri saat hubungan seksual. Keluhan ini disebabkan oleh tumbukan kepala punya suami dengan benang yang menjulur dari buntut dari IUD. Keluhan ini dapat diatasi dengan cara yang relatif mudah yaitu kembali ke dokter kandungan atau bidan untuk memotong benang yang terlalu panjang tersebut.

Keluhan nyeri ini bukan menjadi alasan untuk mencabut kembali IUD. Lain halnya jika IUD tersebut bergeser atau melorot. maka IUD harus dibuka karena bisa menyebabkan keluhan dan tidak efektif untuk melindungi ibu terhadap kehamilan.

Jadi sekali lagi sebagai kesimpulan, efek perlindungan atau proteksi dari IUD terhadap kehamilan yang tidak direncanakan adalah sekitar sehari semalam atau 24 jam. Pasca 24 jam bebas berhubungan dengan suami tanpa harus khawatir akan terjadi kehamilan dan tanpa perlu menggunakan perlindungan tambahan.