Perbedaan pil KB Andalan hijau dan biru

Apa perbedaan pil KB Andalan hijau dan biru?

Sebelum membahas perbedaannya Baiklah kita bahas persamaannya. Persamaan pil KB Andalan hijau dan biru adalah sama-sama pil KB kombinasi. Maksud pil KB kombinasi adalah mengandung kombinasi dua macam hormon yaitu hormon progestin dan hormon estrogen. Jumlah pil aktif pada kedua jenis KB tersebut juga sama yaitu 21 biji.

Lalu Apa yang membedakan keduanya?

Hal yang membedakan antara pil KB Andalan hijau dan andalan biru adalah kandungan 7 pil sisa selain pil aktif yang jumlahnya 21.

Pada pil KB Andalan biru 7 pil sisa tersebut hanya mengandung gula dan tepung tanpa bahan aktif apapun juga. Sedangkan pada pil KB Andalan hijau 7 pil sisa tersebut juga mengandung zat besi. Fungsi zat besi di sini adalah untuk membantu pembentukan sel darah merah. Oleh karena itu cocok pada ibu yang anemia atau Ibu yang haid nya banyak.

Itulah perbedaan antara pil KB Andalan hijau dan biru.

Pengertian Tuberkulosis Paru

Pengertian tuberkulosis adalah penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tanda-tanda penyakit ini adalah batuk lebih dari tiga minggu, badan meriang terutama di sore hari, muncul keringat malam, berat badan turun, dan nafsu makan berkurang. Pengobatan penyakit ini membutuhkan waktu yang lama sekitar 6 bulan dan dengan kombinasi beberapa obat.

Tuberkulosis membunuh sekitar 1,7 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Tuberkulosis juga menjadi pembunuh utama pada orang yang terinfeksi HIV. Meningkatkan deteksi dan diagnosis dini tuberkulosis akan dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian karena TB. Diagnosis tuberkulosis termasuk gampang-gampang susah. Di layanan kesehatan dasar, seperti Puskesmas, biasanya digunakan pemeriksaan sputum SPS (Sewaktu-Pagi-Semalam) yang memerlukan kerjasama pasien dalam mengumpulkan sputum nya. Namun pada pasien-pasien yang immunocompromised seperti pada HIV sulit untuk mendapatkan basil tahan asam dari pemeriksaan sputum SPS. Foto thoraks juga tidak bisa dijadikan konfirmasi untuk diagnosis TB, selain juga sulit untuk membedakan antara TB aktif atau TB lama. Ada satu pemeriksaan standar diagnosis TB yaitu dengan menggunakan kultur, namun memerlukan waktu yang lebih lama (antara 2-3 minggu) dan dengan biaya yang sedikit lebih mahal.

Saat ini beredar pemeriksaan whole blood untuk diagnosis TB yaitu dengan metode IGRAs (Interferon-Gamma Release Assays). Ada dua tes IGRAs yang banyak dipakai yaitu QuantiFERON®-TB Gold In-Tube test (QFT-GIT) dan T-SPOT®.TB test (T-Spot). IGRAs bekerja dengan cara menilai respon imunologis seseorang yang terinfeksi Micobacterium tuberkulosis. Sel-sel darah putih dari sebagian besar orang yang terinfeksi TB akan mengeluarkan interferon-gamma (IFN-g) lalu kemudian diukur kadar IFN-g tersebut. Tes ini sebenarnya mempunyai banyak keuntungan, salah satunya adalah bisa dilakukan one day services (ODS) kepada klien dan bisa langsung diterapi saat itu juga dikarenakan interpretasi hasil yang bisa dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Keuntungan lainnya adalah tidak adanya false positif dari klien yang sudah pernah diberikan vaksin BCG (bacille Calmette-GuĂ©rin).
Micobacterium tuberkulosis dengan pemeriksaan Ziehl Neelsen

Namun baru-baru ini WHO mengeluarkan rekomendasi negatif terhadap IGRAs. Metode ini tidak direkomendasikan oleh WHO dikarenakan tes serologi TB ternyata sering menimbulkan misdiagnosa dan mistreatment yang pada akhirnya berpotensi merugikan kesehatan masyarakat. WHO kemudian merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan pelarangan terhadap metode tes darah untuk diagnosis TB. Menurut WHO, pemeriksaan aktif TB melalui pemeriksaan antibodi atau antigen di dalam darah sangatlah sulit. Klien dapat memiliki respon antibodi yang berbeda meskipun sedang tidak mengalami TB aktif. Beberapa organisme juga sharing antigen yang sama sehingga membuat testing antigen-antibodi menjadi tidak akurat. Rekomendasi ini didapatkan setelah melakukan evaluasi terhadap 94 penelitian yang terdiri dari 67 penelitian pada TB paru dan 27 penelitian pada TB ekstra paru. Evaluasi menunjukkan bahwa terdapat hasil yang bermakna dengan didapatkan false positif maupun false negatif yang cukup besar. Sensitifitas tes yang rendah akan menyebabkan false negatif dimana pasien memberikan hasil tes darah yang negatif padahal TB nya sedang aktif. Hal tersebut akhirnya akan menyebabkan mistreatment. Didapatkan juga spesifisitas tes yang rendah sehingga menyebabkan pasien-pasien yang tidak mengalami TB akan terdiagnosis dengan TB sehingga akan terjadi over-treatment.

Saat ini tersedia sekitar 18 merek dagang tes darah untuk TB. Sebagian besar diproduksi di Eropa dan Amerika Utara. Meskipun badan pengawasan obat belum memberikan rekomendasi terhadap tes ini, namun produknya sudah membanjiri masyarakat. Produk ini biasanya memang ditujukan untuk negara-negara yang memiliki kebijakan yang lemah terhadap pengawasan obatan-obatan dan metode diagnosis. Mungkin termasuk Indonesia. Perlu juga dipertanyakan adanya “insentif marketing” yang pada akhirnya justru akan merugikan pasien.

Dikarenakan foto thorax tidak bisa dijadikan metode diagnosis tunggal, maka untuk diagnosis harus dikombinasikan dengan metode pemeriksaan lain (misalnya pemeriksaan sputum). Pemeriksaan sputum sampai saat ini masih menjadi frontline untuk diagnosis TB. Sedangkan kultur TB memang terbukti sangat akurat dan menjadi gold standar untuk diagnosis TB, namun tidak direkimendasikan untuk strategi public health. Dengan demikian perlu kejelian diagnosis dan menggali faktor-faktor terkait, terutama perjalanan penyakit dan gejala-gajala yang kemungkinan muncul.
Demikian pengertian tuberkulosis, semoga bermanfaat.

PENGERTIAN KANKER SERVIKS

Pengertian kanker serviks atau kanker mulut rahim

Kanker serviks adalah merupakan masalah kesehatan reproduksi utama di Indonesia. Setiap tahun di negara kita diperkirakan terdapat sekitar 15.000 kejadian kanker serviks dengan 8000 kematian diantaranya. Kanker serviks disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV), sejenis virus yang cara penularan utamanya melalui hubungan seks. Dikarenakan bisa terinfeksi melalui hubungan seks, maka infeksi HPV dikategorikan sebagai salah satu infeksi menular seksual (IMS). Virus ini akan ditransmisikan melalui seseorang yang sudah terinfeksi HPV sebelumnya kepada perempuan yang belum terinfeksi. Setelah menginvasi mulut rahim, HPV kemudian akan secara perlahan merusak sel-sel mukosa mulut rahim dan dalam jangka waktu beberapa tahun (rata-rata 5-20 tahun) sel-sel mukosa yang tadinya stabil berubah menjadi sel-sel ganas. Keganasan inilah yang kemudian disebut sebagai kanker serviks.

Ada lebih dari 100 jenis virus HPV. Umumnya tidak menyebabkan keganasan. Sekitar 40 diantaranya menginfeksi organ genital, termasuk penis dan dinding vagina. Umumnya dengan kekebalan tubuh yang baik, infeksi HPV dapat sembuh sendiri. Namun jika infeksinya menjadi kronis, virus ini kemudian akan menyebabkan perubahan sel-sel mulut rahim dan bertransformasi menjadi sel-sel kanker. Dalam bentuk yang lebih jinak, HPV dapat menyebabkan kutil kelamin. Biasanya kutil kelamin tidak akan menyebabkan kanker karena subtype virusnya yang berbeda. Seseorang yangterinfeksi HPV danmenunjukkan gejala kutil kelamin akan membawa virus tersebut sepanjang hidupnya, dan bisa saja kemudian menjadi tanpa gejala atau flat. Selain dapat menyebabkan kanker serviks, HPV juga dihubungkan dengan beberapa kejadian kanker pada vulva, anal dan kanker mulut.

Umumnya pada stadium-stadium awal infeksi HPV, tidak ada gejala berarti yang dapat dirasakan oleh seseorang perempuan yang sudah terinfeksi. Seiring dengan perkembangan infeksi, ketika sel-sel kanker mulai tumbuh di mukosa, maka dapat muncul beberapa tanda dan gejala, seperti :

Keputihan berlebihan dan tidak normal
Perdarahan vagina di luar periode menstruasi
Perdarahan pasca menopause
Perdarahan atau nyeri selama hubungan seks

Seseorang dikatakan mempunyai risiko kanker serviks jika mempunyai faktor risiko hubungan seks yang tidak aman. Atau pasangannya pernah melakukan aktifitas seks yang berisiko. Tidak ada orang yang bisa memastikan siapa yang membawa virus HPV, karena umumnya infeksi HPV berbentuk silent. Untuk itu bagi siapapun yang pernah berhubungan seks sebaiknya melakukan skrining kanker serviks, baik berupa papsmear atau tes IVA.Penggunaan kondom pada aktifitas hubungan seks dapat membantu mengurangi risiko terinfeksi HPV

Selain faktor risiko utama melalui hubungan seks, seorang perempuan yang terfeksi HPV menjadi lebih rentan berkembang menjadi kanker serviks apabila :

Merokok
Menggunakan kontrasepsi oral/hormonal dalam periode yang lama
Mempunyai riwayat kehamilan yang mutiple
Dengan sistem kekebalan yang rendah (immunocompromised), misalnya terinfeksi HIV

Arti Kanker Serviks

Deteksi dini kanker serviks adalah dengan melakukan pemeriksaan struktur sel-sel pada mulut rahim, tes ini dikenal dengan nama PAP SMEAR karena diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Yunani bernama Georgius Papanikolau. Tes dan deteksi dini lain yang lebih sederhana adalah menggunakan tes IVA, dengan menggunakan asam cuka yang dapat mendeteksi secara cepat gambaran perubahan morfologi sel-sel mukosa mulut rahim secara visual. Kedua tes tersebut, papsemar dan tes IVA, mampu mendeteksi perubahan awal morfologi sel mukosa mulut rahim sebelum menjadi ganas, sehingga bisa dilakukan intervensi sedini mungkin sebelum sel-sel serviks berubah menjadi sel-sel kanker. Idealnya setelah aktif secara seksual, seorang perempuan disarankan melakukan pap smear atau tes IVA setiap 3 tahun sekali. Setelah usia 30 tahun dapat dilakukan tes setiap lima tahun sekali. Pada perempuan yang sangat aktif secara seksual dianjurkan untuk melakukan deteksi dini pada periode waktu yang lebih singkat lagi.

Ketika hasil pap smear menunjukkan gambaran abnormal, maka sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan kolposkopi untuk secara visual melihat perubahan mukosa mulut rahim. Biasanya juga dilanjutkan dengan tindakan penghilangan atau penghancuran sel-sel abnormal tersebut. Tindakan ini sangat efektif untuk mencegah perkembangan menjadi sel kanker. Selain kolposkopi, bisa juga dilakukan tes DNA HPV untuk memastikan adanya infeksi HPV yang dapat berkontribusi menjadi sel-sel kanker. Tes ini biasanya dilakukan setelah mendapatkan gambaran abnormal pada pemeriksaan papsemar atau tes IVA. Tindakan biopsi dilakukan selain untuk mengetahui morfologi sel, juga untuk mengeradikasi sel-sel abnormal tersebut. Dokter patologi kemudian akan melakukan pemeriksaan terhadap-jaringan yang dibiopsi tersebut.

Jika terlambat melakukan deteksi dini, sel-sel kanker dapat berkembang ke jaringan sekitar, seperti rahim atau ovarium. Sehingga umumnya tindakan pengobatan yang dilakukan selain dengan mengangkat sumber kanker pada mulut rahim juga dilakukan pengangkatan rahim, jaringan adneksa dan ovarium, lalu dilanjutkan dengan radioterapi atau kemoterapi. Semua tindakan lebih lanjut ini sangat tidak nyaman dan sangat mengganggu fungsi reproduksi seorang perempuan, sehingga deteksi dini saat ini masih menjadi tindakan pilihan utama untuk menghindari perkembangan lebih lanjut kanker serviks. Semakin dini ditemukan gejala kanker serviks, dapat mencegah tingginya angka kematian karenanya.

Sekarang juga telah tersedia vaksinasi kanker serviks yang dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV. Namun vaksin ini hanya akan efektif apabila seseorang belum pernah terpapar oleh virus HPV. Seseorang perempuan yang sudah aktif secara seksual dan pernah terpapar oleh virus HPV tidak akan efektif apabila diberikan vaksinasi kanker serviks. Bahkan dapat menyebabkan tumbuhnya sel-sel kanker menjadi lebih cepat lagi. Sehingga walaupun telah tersedia vaksinasi, tindakan pencegahan utama masih tetap papsmear dan tes IVA.

Di Amerika dan Australia, vaksinasi kanker serviks sudah menjadi program nasioanal dan wajib diberikan pada setiap perempuan yang belum pernah berhubungan seks. Dengan demikian, program ini dilakukan pada setiap perempuan yang berumur antara 12-14 tahun, dengan asumsi bahwa rata-rata umur hubungan seks pertama adalah pada umur 14 tahun. Di Indonesia kita tidak mengetahui secara persis berapa umur rata-rata hubungan seks pertama. Sehingga sangat tidak masuk akal jika kemudian perkumpulan ibu-ibu kemudian dilakukan edukasi untuk pencegahan kanker serviks dengan vaksinasi.

penyebab kanker serviks pada wanita
pencegahan kanker serviks
makanan penyebab kanker serviks
pengertian kanker serviks
pengobatan kanker serviks
cara mengobati kanker serviks

Pengertian Sehat menurut Para Ahli

Anda tentu sudah sangat familiar dengan kata sehat. Kalau ditanya apakah anda sehat tentu jawabannya beragam. Sudah lama sekali semenjak WHO menetapkan definisi sehat pada tahun 1948, yaitu keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Dengan demikian akan banyak sekali orang yang tidak memenuhi kriteria sehat ini. Bagaimana dengan orang-orang yang mengalami penyakit kronis, misalnya diabetes, hipertensi, gagal ginjal, atau rheumatoid arthritis?

Pengertian Sehat Menurut WHO

Definisi WHO tersebut sangat bermasalah dengan kata-kata “sempurna”. Sebagian besar dari kita sepertinya tidak akan pernah berada dalam kriteria sehat WHO apabila berpedoman pada definisi sempurna. Kekurangan lainnya, pada tahun 1948 sebagian besar penyakit disebabkan oleh penyakit-penyakit akut. Namun kondisi tersebut sekarang sudah berubah dimana sebagian besar penyakit saat ini adalah penyakit kronis. Pola penyakit juga mengalami perubahan dengan adanya peningkatan nutrisi, higiene, sanitasi serta semakin majunya intervensi kesehatan masyarakat. Perubahan kemajuan teknologi kesehatan tersebut membuat angka harapan hidup meningkat. Sedangkan proses penuaan saat ini masih sangat normal apabila disertai dangan temuan abnormal pada pemeriksaan skrining rutin, misalnya didapatkan tekanan darah yang sedikit naik, adanya kenaikan kolesterol yang bahkan tidak terlalu tinggi, atau perubahan komposisi ureum-kreatinin pada usia lanjut. Temuan-temuan tersebut akan membuat semakin banyaknya penyakit kronis dan saat ini pengobatan terhadap penyakit-penyakit kronis merupakan pengeluaran terbesar dalam pembiayaan kesehatan global. Temuan-temuan kondisi kesehatan kronis terkadang juga membatasi kemampuan manusia dalam berkarya meskipun mengalami penyakit kronis. Situasi ini menghambat peran kapasitas manusia untuk mampu hidup secara mandiri dengan adanya perubahan fisik, emosional, dan sosial sehingga mampu berfungsi dalam pemenuhan kesejahteraan dengan penyakit kronis yang dialami.

Pengertian Sehat Menurut Para Ahli

Berdasarkan adanya pergeseran pola penyakit tersebut, seharusnya definisi sehat juga mengalami perubahan dan harus didefinisikan sebagai kemampuan diri untuk beradaptasi dan mengelola terhadap sumber penyakit atau kesakitan. Definisi ini kemudian seharusnya dibagi menjadi tiga pilar yaitu kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesehatan sosial.

Kesehatan fisik terjadi jika tubuh mampu mempertehankan kondisi alostasis, yaitu kemampuan mempertahankan keseimbangan (homeostasis) terhadap berbagai perubahan yang muncul secara fisik. Ketika berhadapan dengan tekanan fisiologis, tubuh yang sehat akan mampu melakukan respon pertahanan, mengurangi potensi kerusakan, dan melalukan adaptasi agar tetap terjadi kesimbangan fisiologis. Jika mekanisme mempertehankan keseimbangan fisiologis ini tidak terjadi, maka akan muncul kondisi yang disebut homeostasis-load yang pada akhirnya akan memunculkan penyakit.

Pada pilar kesehatan mental mungkin bisa diambil dari penjelasan Professor Aaron Antonovsky yang penasaran mengapa sebagian Yahudi yang selamat dari siksaan Nazi pada PD ke II ada yang sangat menderita secara fisik dan mental tetapi ada sebagian lain yang tetap sehat-sehat saja. Ia ingin mengetahui mengapa ada orang-orang yang tahan terhadap tekanan stress yang berat dan ada yang tidak. Ia tidak menggunakan pendekatan tradisional yang berfokus pada pencarian asal-usul penyakit dan cara pengobatannya, tapi ia justru mencari asal-usul yang membuat kesehatan seseorang dan ketahanannya. Pendekatan ini ia sebut sebagai Salutogenesis (Latin = asal-usul kesehatan). Ia menyamakan obat-obat barat modern sebagai upaya untuk mengentaskan orang yang terseret oleh arus sungai yang bergolak tetapi sedikitpun tidak menanyakan mengapa orang itu sampai terseret jatuh kesana dan kenapa dia tidak pandai berenang. Arus kehidupan bagaikan sungai yang bertebing licin dan orang mudah terpeleset kedalamnya. Kalau ingin selamat, orang harus mempelajari lika-liku sungai itu. Bagian mana yang sulit dan bagian mana yang mudah diseberangi, mana hulu dan mana hilirnya. Hal ini perlu agar kita tidak kehabisan tenaga atau terseret arus waktu berenang mengarunginya. Sehingga seseorang yang sehat secara mental adalah orang yang mampu mengatasi berbagai macam tekanan psikologis dan terhindar dari post traumatic stress disorder. Dengan mampu melakukan adaptasi secara mental, maka orang akan mampu mengeliminis berbagai penyakit yang kemungkinan menyerang. Paling tidak meminimalisir keluhannya.

Pilar kesehatan sosial menyangkut beberapa domain, diantaranya kemampuan seseorang untuk menggali potensinya, kemampuan personal untuk mengatasi permasalahan kesehatan, dan kemampuan personal untuk terlibat aktif di aktifitas sosial meskipun mempunyai keterbatasan medis. Aspek kesehatan dalam pilar ini bisa didefinisikan sebagai keseimbangan antara opportunity dan keterbatasan, Bagaimana seseorang melihat kesempatan dalam keterbatasan yang ada dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan tantangan lingkungan. Dengan kemampuan melakukan adaptasi terhadap penyakit seseorang akan mampu untuk bekerja dan berpartisipasi dalam aktifitas sosial dan akan merasa sehat dalam keterbatasannya. Sebuah studi pada Stanford Chronic Dissease Self Management Programme menunjukkan bahwa seseorang yang mampu mengatasi kehidupan sosialnya dengan lebih baik dan mampu mengatasi penyakitnya ternyata terbukti menunjukkan derajat kesehatan yang lebih baik. Biaya kesehatan juga turun dengan signifikan.

Dengan demikian seharusnya definisi sehat harus merujuk kepada kemampuan untuk beradaptasi dan mengelola ketidakmampuan dan tidak berfokus kepada “kesempurnaan” yang sangat sulit sekali didapatkan pada orang-orang dengan gangguan kronis. Penyempurnaan definisi ini sebaiknya dilakukan mengingat saat ini telah terjadi pergeseran penyakit dari akut menjadi kronis.

Pengertian Sehat Menurut Para Ahli

CIRI-CIRI VIRUS ROTAVIRUS

Saat mulai memfasilitasi pelatihan pagi ini, ada pertanyaan dari peserta pelatihan. Mengapa HIV dimasukkan ke dalam golongan retrovirus? Apa sebenarnya retrovirus itu ? Berikut sedikit penjelasan mengenai retrovirus.

Ciri-Ciri Virus Rotavirus

Retrovirus adalah sekumpulan virus RNA yang memerlukan sel-sel tuan rumah untuk menduplikasikan dirinya dengan bantuan enzym reverse transcriptase . Susah yaaa? Bahasa gampangnya gini deh. Virus-Virus RNA ini tidak mampu berkembang biak sendiri. Umumnya virus yang struktur nya DNA mampu menduplikasi dirinya sendiri. Nah virus RNA perlu media untuk berkembang biak. Kebetulan media yang digunakan untuk berkembang biak ini memiliki enzym reverse transcriptase, dan si virus RNA ini memanfaatkan enzym tersebut untuk berkembang biak. Sehingga virus-virus golongan retrovirus jika akan memperbanyak dirinya memerlukan host (atau biasa disebut inang) dan di dalam host tersebut harus ada enzym reverse transcriptase.

Setelah kode genetik nya diterjemahkan oleh enzym reverse transcriptase, kemudian kode tersebut diintegrasikan ke dalam DNA sel inang nya dengan bantuan enzym integrase. Nah dari sinilah kemudian virus akan mulai melakukan replikasi atau mulai memperbanyak dirinya dengan mengkopi dari DNA sel inang nya. Jahat juga ya,… Tapi ada yang lebih jahat lagi. Ada golongan Endogenous Retrovirus yang akan masuk ke dalam kode genetik DNA sel inang dan tetap berada di sana untuk merusak DNA nya sepanjang keturunan.

Ciri-Ciri Materi Genetik Virus Rotavirus

Umumnya virus yang berbentuk DNA akan merubah materi genetiknya menjadi RNA. Namun golongan retrovirus ini justru sebaliknya. Pada RNA virus, kode genetik yang terdapat di RNA akan di reverse-transcribed (retro) menjadi DNA dan kemudian diterjemahkan ke dalam kode genetik host untuk menjadi provirus. Provirus ini akan tetap menjadi provirus selama belum dikeluarkan oleh sel inang. Pada infeksi HIV satu virus HIV RNA membutuhkan sel-sel yang mempunyai penanda CD4 untuk dapat memperbanyak dirinya. Provirus yang dihasilkan oleh satu virus RNA setelah mengalami proses berkembang biak di sel host bisa ratusan sampai ribuan. Setelah provirus dikeluarkan, sel inang nya akan hancur dan keluarlah ribuan virus-virus baru yang kembali akan berkembang biak dengan mencari sel inang lainnya. Lambat laun jumlah virus nya semakin banyak, namun jumlah sel-sel yang mempunyai penanda CD4 ini akan semakin sedikit. Padahal sel-sel dengan penanda CD4 kebanyakan adalah sel-sel darah putih yang berfungsi untuk kekebalan tubuh.

pengobatan rotavirus
ciri ciri virus rotavirus
penyakit rotavirus
cara penyembuhan rotavirus
rotavirus pdf
karakteristik rotavirus
cara pencegahan rotavirus
cara penularan rotavirus

Jumlah odha di Indonesia

Tidak pernah diketahui berapa jumlah pasti orang yang terinfeksi HIV, baik di dunia maupun di Indonesia. Karena alamiahnya memang infeksi HIV tidak akan menunjukkan tanda dan gejala setelah beberapa tahun terinfeksi. Uraian di bawah ini akan sedikit banyak menyingkap berapa sebenarnya angka pasti kasus HIV di Indonesia saat ini. Anda bisa menggunakan metodologi sederhana ini di daerah Anda masing-masing.

Dalam epidemi HIV dikenal dengan istilah fenomena gunung es. Fenomena ini bisa digambarkan sebagai sebuah fenomena tersembunyi dari suatu fakta yang muncul di permukaan. Biasanya jumlah fakta yang muncul tidak sebanding dengan fenomena yang tersembunyi. Misalnya jika di suatu daerah X ditemukan terdapat 10 kasus HIV, maka kemungkinan terdapat sekitar 100-1000 kasus HIV yang belum terdiagnosa di daerah tersebut. Nah untuk mengetahui berapa sebenarnya denominator faktor pengali yang bisa memastikan berapa sebenarnya angka pasti kasus di sebuah wilayah, saya belum pernah mengetahui ada literatur yang menyebutkan metodologinya. Diskusi-diskusi dengan ahli-ahli kesehatan masyarakat pun tidak ada yang secara pasti menyatakan berapa nilai denominatornya.

Jumlah ODHA

Kita coba flashback beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 2005 tercatat sebanyak 5.320 kasus AIDS yang dilaporkan ke Kementerian Kesehatan. Saya coba membahas berdasarkan kasus AIDS nya saja sebab AIDS berhubungan dengan kejadian penyakit, sedangkan HIV tidak berhubungan dengan kejadian dan admision seseorang ke rumah sakit. Artinya seseorang yang terinfeksi HIV belum tentu bergejala. Justru dengan memahami fenomena gunung es ini secara langsung, bisa memahami berapa sebenarnya sebaran atau besaran populasi tersembunyi yang masuk di bawah fenomena gunung es. Tahun 2005 sampai sekarang, angka denominator yang sering kali diucapkan oleh ahli-ahli kesehatan masyarakat di Indonesia adalah antara 10 atau 100. Kalikan saja kasus yang sekarang dengan 10 atau 100 (bahkan ada yang mengkalikan dengan 1000) untuk mengetahui berapa sebenarnya kasus yang tersembunyi di masyarakat. Masih valid kah angka denominator ini?

Jumlah ODHA di Indonesia

Kita mengetahui bahwa perjalanan penyakit orang yang terinfeksi HIV akan berlangsung selama 5-10 tahun sampai akhirnya menimbulkan gejala. Artinya dalam 5 tahun ketika seseorang terinfeksi HIV, maka baru akan menunjukkan gejala setelah 5 tahun kemudian. Biasanya setelah ada gejala orang yang terinfeksi HIV akan datang ke rumah sakit. Ketika ternyata gejalanya terkait dengan AIDS maka biasanya kemudian ditawarkan atau disarankan untuk voluntary counseling and testing (VCT ) dan akhirnya baru diketahui status HIV nya setelah sampai rumah sakit. Kasus AIDS tahun 2010 merefleksikan kejadian infeksi HIV pada tahun 2005. Sedangkan angka kasus AIDS pada tahun 2010 sebanyak 22.726 kasus. Seharusnya denominator nya menjadi 22.726 dibagi 5.320, yaitu 4,27. Terlalu tinggi rasanya jika menggunakan angka denominator 10, 100 atau bahkan 1000.

Jika tahun 2011 sekarang tercatat 26.000 kasus AIDS maka bisa diperkirakan jumlah kasus HIV saat ini adalah sekitar 111.000. Artinya ada sekitar 85.000 orang yang telah terinfeksi HIV namun belum diketahui statusnya sampai saat ini. Dan orang-orang dalam kelompok ini tetap berpotensi menularkan walaupun tidak mengetahui statusnya.

Apakah Anda termasuk ke dalam 85.000 orang ini?

JUMLAH ODHA DI INDONESIA DARI TAHUN KE TAHUN

Pertanyaan Seputar Tes HIV

Bagaimana saya bisa tahu saya terinfeksi HIV?

Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak adalah dengan melakukan tes HIV (biasanya akan diperiksa antibodi HIV). Kita tidak bisa menebak apakah seseorang sudah terinfeksi HIV hanya dengan melihat orang tersebut. Kita juga tidak bisa mendiagnosa HIV hanya dari melihat tanda dan gejalanya saja. Gejala orang terinfeksi HIV sangat tidak spesifik. Banyak gejala lain yang mirip terinfeksi HIV stadium lanjut, namun banyak juga HIV yang tidak bergejala sama sekali. Itulah mengapa tes HIV merupakan satu-satunya cara definitif untuk menegakkan diagnosa terinfeksi HIV.

Mengapa saya harus tes HIV?

Jika Anda tidak pernah berhubungan seks yang tidak aman, tidak pernah berganti-ganti alat suntik (menggunakan narkoba suntik misalnya), tidak pernah terpapar HIV pada tindakan medis atau di tempat kerja, maka kecil kemungkinan Anda terinfeksi HIV. Untuk kondisi di atas bisa dikatakan tidak ada alasan untuk Anda melakukan tes HIV.
Jika ada kemungkinan Anda terpapar HIV dengan cara apapun di atas, ada baiknya Anda melakukan tes HIV.
Banyak orang takut untuk tes HIV karena takut menerima jika hasilnya positif. Ini artinya orang-orang tersebut akan menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun hanya khawatir seandainya terinfeksi. Kekhawatiran tidak bisa mencegah seseorang dari terinfeksi HIV lhooooo…. Akan lebih baik untuk tahu status Anda daripada tidak tahu sama sekali dan menjadi khawatir. Jika kemudian Anda tes HIV lalu hasilnya negatif tentu saja Anda akan bisa tenang dari sebagian besar kekhawatiran Anda. Namun jika hasilnya positif, Anda akan selalu ditawarkan untuk mendapat dukungan emosional dan pilihan-pilihan atas apa yang akan direncanakan kemudian. Kemudian akan dilakukan asesmen kesehatan dan mungkin saja memulai obat-obatan antiretroviral jika tersedia dan memungkinkan. Juga akan diberikan advis-advis untuk menghindari penularan HIV kepada pasangan atau anak Anda jika Anda kemudian merencanakan untuk memiliki anak.

Kapan sebaiknya saya tes HIV ?

Meskipun orang yang baru saja terinfeksi HIV akan menjadi sangat infeksius untuk orang lain, namun untuk mendapatkan hasil tes yang akurat harus menunggu sementara waktu. Lamanya waktu dari mulai terinfeksi sampai mendapatkan hasil tes yang akurat bergantung dari jenis dan metode tes yang digunakan. Pada sebagian besar tes HIV, tes yang standar akan melakukan uji antibodi. Artinya tes HIV umumnya akan melakukan tes ada tidaknya antibodi terhadap HIV di dalam tubuh kita. Untuk sebagian besar populasi, tubuh kita akan membuat antibodi HIV antara 6 minggu sampai 3 bulan setelah terinfeksi. Artinya perlu waktu sampai 3 bulan agar antibodi HIV terdeteksi. Jika dilakukan tes kurang dari 3 bulan dari saat terpapar ada kemungkinan hasilnya tidak akurat karena tubuh belum sempat membuat antibodi HIV nya. Masa waktu 3 bulan ini kemudian dikenal sebagai periode jendela atau window period. Jadi ada baiknya Anda menunggu 3 bulan dari risiko terinfeksi untuk mendapatkan hasil tes yang akurat. Nahhh, selama Anda menunggu untuk testing dalam periode jendela ini sebaiknya Anda menghindari paparan risiko terinfeksi selama 3 bulan. Artinya Anda harus melakukan seks yang aman dan tidak berganti jarum suntik. Jika kemudian hasilnya negatif sedangkan Anda melakukan aktifitas berisiko dalam periode jendela, maka hasil negatif tersebut menjadi tidak akurat dan Anda harus menunggu masa 3 bulan lagi.

Sepertinya saya akan menjadi galau kalau harus menunggu 3 bulan untuk mendapatkan hasil tes HIV yang akurat. Apakah ada cara lain yang lebih cepat?

Tes antibodi HIV adalah jenis tes yang paling banyak digunakan dan biasanya hasilnya bisa dipercaya. Namun ada tes lain yang bisa mendeteksi langsung keberadaan virus dengan tanpa menunggu terbentuknya antibodi. Tes ini langsung mencari virusnya (antigen). Tes HIV PCR akan memberikan hasil yang akurat dalam waktu kurang dari 3 minggu. Namun tes ini jauh lebih mahal dan tidak tersedia secara umum jika dibandingkan dengan tes antibodi.

Antibodi itu sebenarnya apa sih?

Tes antibodi adalah tes yang paling umum digunakan. Tes ini akan mencari antibodi HIV di dalam tubuh kita. Ketika HIV memasuki tubuh kita, tubuh kita akan membentuk semacam protein yang dikenal sebagai antibodi. Antibodi adalah respon alamiah tubuh kita terhadap infeksi. Jadi jika seseorang memiliki antibodi spesifik untuk HIV maka orang tersebut telah terinfeksi HIV (kecuali pada bayi yang akan membawa antibodi ibunya sampai beberapa bulan). Bergantung dari tempat layanannya, tes antibodi bisa diperoleh dalam waktu kurang dari satu jam (untuk rapid test) dan bisa juga beberapa hari sampai beberapa minggu. Di puskesmas-puskesmas di Indonesia menggunakan rapid testing yang juga sudah sangat akurat untuk deteksi antibodi HIV.

Bagaimana caranya saya bisa dites HIV

Ketika Anda memutuskan untuk tes HIV, Anda akan ditemui oleh dokter, konselor terlatih atau perawat/bidan. Mereka kemudian akan menjelaskan mengenai fungsi tes dan apa artinya dari hasil tes tersebut. Juga akan dilakukan konseling lebih lanjut yang tujuannya antara lain untuk menentukan faktor risiko dan dan merencanakan terhadap kemungkinan hasil yang didapatkan. Setelah proses konseling selesai dan Anda setuju untuk dilakukan tes, selanjutnya akan diambil sedikit sampel darah. Biasanya diambil dari pembuluh vena di tangan. Untuk tes rapid, Anda akan mendapatkan konseling lanjutan pasca testing. Untuk tes yang hasilnya beberapa hari atau minggu Anda perlu menjadwalkan kunjungan ulang.

Periode Jendela Berlangsung Selama Berapa Minggu?

Periode jendela atau window period adalah masa di mana seseorang sudah menderita HIV tetapi pemeriksaan masih menunjukkan hasil negatif.

Lama periode jendela dihitung antara hari masuknya virus HIV kedalam tubuh sampai uji deteksi virus HIV yang saat ini tersedia mampu mendeteksi bahwa tubuh sudah terinfeksi HIV.

Periode jendela berlangsung selama 3 bulan atau 12 minggu. Setelah periode jendela ini terlewati maka kemampuan deteksi uji HIV yang ada di laboratorium kesehatan saat ini mencapai 99,9%.

Kenapa periode jendela berlangsung selama 3 bulan?

Karena tubuh butuh waktu untuk memproduksi antibodi yang cukup sehingga bisa dideteksi oleh uji HIV.

Jadi uji HIV yang digunakan bukan mendeteksi virus secara langsung tapi mendeteksi antibodi terhadap virus. Senyawa antibodi berfungsi untuk melawan virus yang berkembang biak dalam tubuh.

Semoga dengan adanya artikel Periode Jendela Berlangsung Selama Berapa Minggu ini bisa menambah pengetahuan baru bagi Pembaca sekalian.


Suka ngiler, ini cara mengatasinya

Semua sepakat bahwa ngiler itu kebiasaan buruk. Selain meninggalkan jejak di pipi juga meninggalkan pulau-pulau dan bau pada bantal atau tempat tidur.

Tapis sebenarnya tidak ada orang yang ikhlas secara sukarela mau ngiler. Mereka ngiler secara tidak sadar pada saat tidur. Walaupun demikian bukan berarti saat kita ngiler kita berpasrah diri bahwa itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan mengalirnya iler dari sudut bibir saat tidur.

Pertama perhatikan posisi tidur, usahakan jangan mengambil posisi tidur yang membuat kita kesulitan bernapas. Kondisi kesulitan bernafas dapat memicu produksi air liur yang berlebihan yang keluar sebagai iler. Cobalah ambil posisi miring ke kanan.

Kedua sikatlah gigi sehingga pada saat tidur mulut dalam keadaan bersih. Adanya sisa makanan dan proses pembusukan oleh bakteri di dalam mulut dapat memicu produksi air liur yang berlebihan sehingga juga keluar iler.

Ketiga minumlah cukup air menjelang tidur tapi jangan juga berlebihan. Menurut literatur ilmiah dari terasi pada malam hari dapat memicu produksi iler.

Kondisi penyakit berupa sleep apnea yaitu kesulitan Bernafas tiba-tiba saat sedang tidur juga dapat memicu orang ileran. Sayangnya kondisi ini tidak bisa diatasi sendiri harus dikonsultasikan dengan dokter.

Semoga langkah-langkah diatas terutama langkah 1 2 dan 3 dapat mengurangi kebiasaan buruk iler pada saat tidur.


Cara Kerja Amoksisilin

Cara kerja amoksisilin dalam membunuh bakteri adalah dengan cara menghambat sintesis atau pembuatan membran sel bakteri baru. Jika membran sel yang berfungsi sebagai dinding tidak terbentuk dengan baik maka isi dalam bakteri akan mudah keluar Akibat pecahnya dinding. Dengan demikian bakteri tidak dapat bertahan hidup dan berkembang biak.

Cara kerja amoksisilin seperti ini tidak hanya dimiliki oleh amoksisilin tapi juga oleh antibiotik beta laktamase lainnya seperti penisilin, ampisilin, dan sebagainya.


PENYEBAB BIDURAN TERUS MENERUS

Anak ibu biduran terus menerus setiap hari. Kerjaannya hanya menggaruk dan mengeluh gatal serta bentol-bentol merah di sekujur tubuh. Apa sih penyebab biduran terus menerus pada anak tersebut?

Biduran atau kaligata muncul akibat terjadinya pelepasan senyawa histamin. Senyawa inilah yang menyebabkan bentol-bentol dan rasa gatal yang amat sangat. Lepasnya senyawa histamin terjadi akibat dipicu oleh reaksi alergi. Reaksi tersebut timbul akibat adanya benda asing atau benda yang dianggap asing masuk ke dalam tubuh. Jadi setiap ada benda asing masuk maka terjadi pelepasan histamin untuk melawannya. Selang beberapa waktu biasanya senyawa histamin akan hilang bentol-bentol merah akan mereda dan gatal akan berkurang.

Jika biduran terjadi terus-menerus maka dipastikan penyebabnya juga Mengapa anak tersebut terus menerus. Karena penyebab ada terus maka histamin diproduksi juga terus menerus. Akibatnya gejala biduran tak kunjung sembuh.

Hal penting untuk mengatasi biduran terus menerus adalah menemukan penyebab biduran. Bisa jadi karena debu atau makanan seperti telur. Identifikasi penyebab biduran terus menerus agak sulit. Tapi kalau sudah ditemukan penyebabnya maka lebih gampang mengelolanya. Caranya dengan menghindari paparan dari penyebab tersebut. Misalnya biduran terjadi akibat konsumsi telur maka anak tidak boleh mengkonsumsi telur lagi. Kalau sekali waktu tak sengaja mengkonsumsi telur dan terjadi biduran maka dapat diberikan obat antihistamin misalnya CTM. Perlu diingat bahwa obat obat antihistamin hanya mengatasi biduran pada saat itu saja tidak bisa mencegah munculnya biduran pada masa akan datang atau mengobati biduran secara permanen.

Demikian artikel penyebab biduran terus-menerus semoga bermanfaat.

MEMAHAMI PENYAKIT HIV/AIDS

Human immunodeficiency virus atau disingkat HIV adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS. Virus HIV bekerja dengan cara merusak sistem pertahanan tubuh sehingga pertahanan tubuh menjadi lemah. Dengan demikian penyakit menjadi gampang masuk dan tubuh tidak mampu melawannya.

Virus HIV ditularkan dari orang ke orang melalui hubungan seksual dan Melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian. Hubungan seksual yang sangat mudah menjadi sarana penularan adalah hubungan lewat belakang.

Gejala HIV terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu gejala akut, gejala kronik, dan gejala AIDS.

Gejala akut AIDS biasanya terjadi 2 sampai 6 minggu pasca tertular pertama kali. Gejalanya mirip mirip ketika kita terserang flu yaitu sakit kepala, badan pegal-pegal dan lemas. Gejala ini muncul akibat tubuh sedang berperang melawan virus HIV.

Setelah gejala akut maka muncul gejala kronik HIV. Pada fase ini penderita tidak merasakan gejala apa-apa. Bahkan sebagian besar penderita tidak sadar bahwa dia sedang menderita HIV. Gejala kronik ini biasanya berlangsung bertahun-tahun bahkan sampai 10 tahun.

Gejala AIDS merupakan gejala ter akhir dari rangkaian perjalanan penyakit HIV. Gejala IC ditandai dengan munculnya kanker kulit dan penyakit paru-paru. Tak hanya itu muncul berbagai macam gejala yang sulit dijelaskan penyebabnya misalnya diare yang berkepanjangan tak sembuh-sembuh walaupun sudah diobati.
Gejala AIDS jika tidak segera diatasi dengan obat obat antiretroviral biasanya akan berakibat fatal bagi jiwa penderitanya.