Pengertian Tuberkulosis Paru

Pengertian tuberkulosis adalah penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tanda-tanda penyakit ini adalah batuk lebih dari tiga minggu, badan meriang terutama di sore hari, muncul keringat malam, berat badan turun, dan nafsu makan berkurang. Pengobatan penyakit ini membutuhkan waktu yang lama sekitar 6 bulan dan dengan kombinasi beberapa obat.

Tuberkulosis membunuh sekitar 1,7 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Tuberkulosis juga menjadi pembunuh utama pada orang yang terinfeksi HIV. Meningkatkan deteksi dan diagnosis dini tuberkulosis akan dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian karena TB. Diagnosis tuberkulosis termasuk gampang-gampang susah. Di layanan kesehatan dasar, seperti Puskesmas, biasanya digunakan pemeriksaan sputum SPS (Sewaktu-Pagi-Semalam) yang memerlukan kerjasama pasien dalam mengumpulkan sputum nya. Namun pada pasien-pasien yang immunocompromised seperti pada HIV sulit untuk mendapatkan basil tahan asam dari pemeriksaan sputum SPS. Foto thoraks juga tidak bisa dijadikan konfirmasi untuk diagnosis TB, selain juga sulit untuk membedakan antara TB aktif atau TB lama. Ada satu pemeriksaan standar diagnosis TB yaitu dengan menggunakan kultur, namun memerlukan waktu yang lebih lama (antara 2-3 minggu) dan dengan biaya yang sedikit lebih mahal.

Saat ini beredar pemeriksaan whole blood untuk diagnosis TB yaitu dengan metode IGRAs (Interferon-Gamma Release Assays). Ada dua tes IGRAs yang banyak dipakai yaitu QuantiFERON®-TB Gold In-Tube test (QFT-GIT) dan T-SPOT®.TB test (T-Spot). IGRAs bekerja dengan cara menilai respon imunologis seseorang yang terinfeksi Micobacterium tuberkulosis. Sel-sel darah putih dari sebagian besar orang yang terinfeksi TB akan mengeluarkan interferon-gamma (IFN-g) lalu kemudian diukur kadar IFN-g tersebut. Tes ini sebenarnya mempunyai banyak keuntungan, salah satunya adalah bisa dilakukan one day services (ODS) kepada klien dan bisa langsung diterapi saat itu juga dikarenakan interpretasi hasil yang bisa dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Keuntungan lainnya adalah tidak adanya false positif dari klien yang sudah pernah diberikan vaksin BCG (bacille Calmette-GuĂ©rin).
Micobacterium tuberkulosis dengan pemeriksaan Ziehl Neelsen

Namun baru-baru ini WHO mengeluarkan rekomendasi negatif terhadap IGRAs. Metode ini tidak direkomendasikan oleh WHO dikarenakan tes serologi TB ternyata sering menimbulkan misdiagnosa dan mistreatment yang pada akhirnya berpotensi merugikan kesehatan masyarakat. WHO kemudian merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan pelarangan terhadap metode tes darah untuk diagnosis TB. Menurut WHO, pemeriksaan aktif TB melalui pemeriksaan antibodi atau antigen di dalam darah sangatlah sulit. Klien dapat memiliki respon antibodi yang berbeda meskipun sedang tidak mengalami TB aktif. Beberapa organisme juga sharing antigen yang sama sehingga membuat testing antigen-antibodi menjadi tidak akurat. Rekomendasi ini didapatkan setelah melakukan evaluasi terhadap 94 penelitian yang terdiri dari 67 penelitian pada TB paru dan 27 penelitian pada TB ekstra paru. Evaluasi menunjukkan bahwa terdapat hasil yang bermakna dengan didapatkan false positif maupun false negatif yang cukup besar. Sensitifitas tes yang rendah akan menyebabkan false negatif dimana pasien memberikan hasil tes darah yang negatif padahal TB nya sedang aktif. Hal tersebut akhirnya akan menyebabkan mistreatment. Didapatkan juga spesifisitas tes yang rendah sehingga menyebabkan pasien-pasien yang tidak mengalami TB akan terdiagnosis dengan TB sehingga akan terjadi over-treatment.

Saat ini tersedia sekitar 18 merek dagang tes darah untuk TB. Sebagian besar diproduksi di Eropa dan Amerika Utara. Meskipun badan pengawasan obat belum memberikan rekomendasi terhadap tes ini, namun produknya sudah membanjiri masyarakat. Produk ini biasanya memang ditujukan untuk negara-negara yang memiliki kebijakan yang lemah terhadap pengawasan obatan-obatan dan metode diagnosis. Mungkin termasuk Indonesia. Perlu juga dipertanyakan adanya “insentif marketing” yang pada akhirnya justru akan merugikan pasien.

Dikarenakan foto thorax tidak bisa dijadikan metode diagnosis tunggal, maka untuk diagnosis harus dikombinasikan dengan metode pemeriksaan lain (misalnya pemeriksaan sputum). Pemeriksaan sputum sampai saat ini masih menjadi frontline untuk diagnosis TB. Sedangkan kultur TB memang terbukti sangat akurat dan menjadi gold standar untuk diagnosis TB, namun tidak direkimendasikan untuk strategi public health. Dengan demikian perlu kejelian diagnosis dan menggali faktor-faktor terkait, terutama perjalanan penyakit dan gejala-gajala yang kemungkinan muncul.
Demikian pengertian tuberkulosis, semoga bermanfaat.