PENGERTIAN KANKER SERVIKS

Pengertian kanker serviks atau kanker mulut rahim

Kanker serviks adalah merupakan masalah kesehatan reproduksi utama di Indonesia. Setiap tahun di negara kita diperkirakan terdapat sekitar 15.000 kejadian kanker serviks dengan 8000 kematian diantaranya. Kanker serviks disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV), sejenis virus yang cara penularan utamanya melalui hubungan seks. Dikarenakan bisa terinfeksi melalui hubungan seks, maka infeksi HPV dikategorikan sebagai salah satu infeksi menular seksual (IMS). Virus ini akan ditransmisikan melalui seseorang yang sudah terinfeksi HPV sebelumnya kepada perempuan yang belum terinfeksi. Setelah menginvasi mulut rahim, HPV kemudian akan secara perlahan merusak sel-sel mukosa mulut rahim dan dalam jangka waktu beberapa tahun (rata-rata 5-20 tahun) sel-sel mukosa yang tadinya stabil berubah menjadi sel-sel ganas. Keganasan inilah yang kemudian disebut sebagai kanker serviks.

Ada lebih dari 100 jenis virus HPV. Umumnya tidak menyebabkan keganasan. Sekitar 40 diantaranya menginfeksi organ genital, termasuk penis dan dinding vagina. Umumnya dengan kekebalan tubuh yang baik, infeksi HPV dapat sembuh sendiri. Namun jika infeksinya menjadi kronis, virus ini kemudian akan menyebabkan perubahan sel-sel mulut rahim dan bertransformasi menjadi sel-sel kanker. Dalam bentuk yang lebih jinak, HPV dapat menyebabkan kutil kelamin. Biasanya kutil kelamin tidak akan menyebabkan kanker karena subtype virusnya yang berbeda. Seseorang yangterinfeksi HPV danmenunjukkan gejala kutil kelamin akan membawa virus tersebut sepanjang hidupnya, dan bisa saja kemudian menjadi tanpa gejala atau flat. Selain dapat menyebabkan kanker serviks, HPV juga dihubungkan dengan beberapa kejadian kanker pada vulva, anal dan kanker mulut.

Umumnya pada stadium-stadium awal infeksi HPV, tidak ada gejala berarti yang dapat dirasakan oleh seseorang perempuan yang sudah terinfeksi. Seiring dengan perkembangan infeksi, ketika sel-sel kanker mulai tumbuh di mukosa, maka dapat muncul beberapa tanda dan gejala, seperti :

Keputihan berlebihan dan tidak normal
Perdarahan vagina di luar periode menstruasi
Perdarahan pasca menopause
Perdarahan atau nyeri selama hubungan seks

Seseorang dikatakan mempunyai risiko kanker serviks jika mempunyai faktor risiko hubungan seks yang tidak aman. Atau pasangannya pernah melakukan aktifitas seks yang berisiko. Tidak ada orang yang bisa memastikan siapa yang membawa virus HPV, karena umumnya infeksi HPV berbentuk silent. Untuk itu bagi siapapun yang pernah berhubungan seks sebaiknya melakukan skrining kanker serviks, baik berupa papsmear atau tes IVA.Penggunaan kondom pada aktifitas hubungan seks dapat membantu mengurangi risiko terinfeksi HPV

Selain faktor risiko utama melalui hubungan seks, seorang perempuan yang terfeksi HPV menjadi lebih rentan berkembang menjadi kanker serviks apabila :

Merokok
Menggunakan kontrasepsi oral/hormonal dalam periode yang lama
Mempunyai riwayat kehamilan yang mutiple
Dengan sistem kekebalan yang rendah (immunocompromised), misalnya terinfeksi HIV

Arti Kanker Serviks

Deteksi dini kanker serviks adalah dengan melakukan pemeriksaan struktur sel-sel pada mulut rahim, tes ini dikenal dengan nama PAP SMEAR karena diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Yunani bernama Georgius Papanikolau. Tes dan deteksi dini lain yang lebih sederhana adalah menggunakan tes IVA, dengan menggunakan asam cuka yang dapat mendeteksi secara cepat gambaran perubahan morfologi sel-sel mukosa mulut rahim secara visual. Kedua tes tersebut, papsemar dan tes IVA, mampu mendeteksi perubahan awal morfologi sel mukosa mulut rahim sebelum menjadi ganas, sehingga bisa dilakukan intervensi sedini mungkin sebelum sel-sel serviks berubah menjadi sel-sel kanker. Idealnya setelah aktif secara seksual, seorang perempuan disarankan melakukan pap smear atau tes IVA setiap 3 tahun sekali. Setelah usia 30 tahun dapat dilakukan tes setiap lima tahun sekali. Pada perempuan yang sangat aktif secara seksual dianjurkan untuk melakukan deteksi dini pada periode waktu yang lebih singkat lagi.

Ketika hasil pap smear menunjukkan gambaran abnormal, maka sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan kolposkopi untuk secara visual melihat perubahan mukosa mulut rahim. Biasanya juga dilanjutkan dengan tindakan penghilangan atau penghancuran sel-sel abnormal tersebut. Tindakan ini sangat efektif untuk mencegah perkembangan menjadi sel kanker. Selain kolposkopi, bisa juga dilakukan tes DNA HPV untuk memastikan adanya infeksi HPV yang dapat berkontribusi menjadi sel-sel kanker. Tes ini biasanya dilakukan setelah mendapatkan gambaran abnormal pada pemeriksaan papsemar atau tes IVA. Tindakan biopsi dilakukan selain untuk mengetahui morfologi sel, juga untuk mengeradikasi sel-sel abnormal tersebut. Dokter patologi kemudian akan melakukan pemeriksaan terhadap-jaringan yang dibiopsi tersebut.

Jika terlambat melakukan deteksi dini, sel-sel kanker dapat berkembang ke jaringan sekitar, seperti rahim atau ovarium. Sehingga umumnya tindakan pengobatan yang dilakukan selain dengan mengangkat sumber kanker pada mulut rahim juga dilakukan pengangkatan rahim, jaringan adneksa dan ovarium, lalu dilanjutkan dengan radioterapi atau kemoterapi. Semua tindakan lebih lanjut ini sangat tidak nyaman dan sangat mengganggu fungsi reproduksi seorang perempuan, sehingga deteksi dini saat ini masih menjadi tindakan pilihan utama untuk menghindari perkembangan lebih lanjut kanker serviks. Semakin dini ditemukan gejala kanker serviks, dapat mencegah tingginya angka kematian karenanya.

Sekarang juga telah tersedia vaksinasi kanker serviks yang dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV. Namun vaksin ini hanya akan efektif apabila seseorang belum pernah terpapar oleh virus HPV. Seseorang perempuan yang sudah aktif secara seksual dan pernah terpapar oleh virus HPV tidak akan efektif apabila diberikan vaksinasi kanker serviks. Bahkan dapat menyebabkan tumbuhnya sel-sel kanker menjadi lebih cepat lagi. Sehingga walaupun telah tersedia vaksinasi, tindakan pencegahan utama masih tetap papsmear dan tes IVA.

Di Amerika dan Australia, vaksinasi kanker serviks sudah menjadi program nasioanal dan wajib diberikan pada setiap perempuan yang belum pernah berhubungan seks. Dengan demikian, program ini dilakukan pada setiap perempuan yang berumur antara 12-14 tahun, dengan asumsi bahwa rata-rata umur hubungan seks pertama adalah pada umur 14 tahun. Di Indonesia kita tidak mengetahui secara persis berapa umur rata-rata hubungan seks pertama. Sehingga sangat tidak masuk akal jika kemudian perkumpulan ibu-ibu kemudian dilakukan edukasi untuk pencegahan kanker serviks dengan vaksinasi.

penyebab kanker serviks pada wanita
pencegahan kanker serviks
makanan penyebab kanker serviks
pengertian kanker serviks
pengobatan kanker serviks
cara mengobati kanker serviks